
Buku ini mengajak kita bercermin sebelum terlambat. Pemimpin yang besar tidak takut dikelilingi orang-orang cerdas. Tidak takut terhadap kritik. Tidak merasa perlu menjadi satu-satunya cahaya. Tidak menjadikan setiap forum sebagai panggung pribadi. Dan tidak mengukur keberhasilannya dari seberapa banyak orang takut kepadanya. Pemimpin yang berperasaan memahami bahwa empati bukan lawan dari ketegasan. Empati adalah jiwa yang membuat ketegasan tetap berpihak kepada kemanusiaan.
Maka setelah halaman terakhir ditutup, pertanyaannya bukan lagi tentang Si Gempal. Pertanyaannya adalah tentang kita: Jika suatu hari kita diberi kekuasaan, apakah kita akan menggunakannya untuk membuat diri kita semakin besar, atau untuk membuat kehidupan orang-orang yang mempercayai kita menjadi lebih baik?
Sebab jabatan akan berakhir. Panggung akan kosong. Mikrofon akan berpindah tangan. Tetapi cara seorang pemimpin membuat manusia merasa dihargai-atau terluka-dapat tinggal jauh lebih lama dalam ingatan masyarakat.
Dan mungkin, pada akhirnya, ukuran kepemimpinan yang paling sederhana adalah ini: Bukan seberapa pintar seseorang berpikir, melainkan seberapa mampu ia tetap merasa ketika memiliki kekuasaan.
Penulis
SAIMAN